6:38 am - Monday October 14, 2019

Broadcast Baskom Air Campur Garam, HOAX

PORTALBALIKPAPAN.COM – Para pengguna BlackBerry Messenger (BBM) tentunya tidak asing dengan pesan berantai yang berisi ajakan untuk menyediakan Baskom berisi Garam didepan rumah agar segera turun hujan.

Mohon bantuan seluruh warga Indonesia: Tolong bantu saudara kita di Kalimantan, jambi, riau n daerah sumatra lainnya. Disana hanya tersisa 5% udara yang layak.  Hanya dengan langkah kecil.  Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakkan diluar, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 s.d jam 13.00, dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat Kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara.  Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di Udara.  Lakukan ini satu rumah cukup 1 ember air garam, rabu tgl 21 Oktober 2015, jam 11 siang serempak..  Mari kita sama2 berusaha utk mnghadapi kabut asap yg kian parah ini..  Pesan ini adalah saran dari BMKG Indonesia  Mohon diteruskan..  Kita selamatkan nasib anak2,balita,ibu hamil yang sudah mulai terkontaminasi oleh kabut asap yang tebal. Terima kasih – mohon teruskan ke semua teman dan kerabat @SaveWorld #Melawan asap

Ajakan ini tentunya patut di apresiasi karena bagaimanapun, hal ini sebagai bentuk upaya kepedulian terhadap bencana kabut asap yang terjadi.

Namun yang menjadi pertanyaan, benarkah dengan menyiapkan sebaskom air dicampur garam dan meletakkan didepan rumah akan menyebabkan turun hujan.

Mengutip dari laman KOMPAS.COM, Peneliti Meteorologi Tropis BPPT Dr Tri Handoko Seto mengungkapkan, dari sisi partisipasi masyarakat, hal itu baik karena menunjukkan kepedulian tinggi terhadap bencana asap yang sedang terjadi.

Walau demikian, dari sisi teknis, hal ini sangat jauh panggang dari api. Satu ember air tiap rumah, dan bila ratusan ribu orang dari tiap rumah melakukannya maka akan ada jutaan meter kubik uap air, hal itu tidaklah mungkin.

Menurutnya, proses terjadinya hujan bukan merupakan mekanisme mikro seperti yang disampaikan dalam pesan berantai tersebut. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi agar hujan terjadi. Selain penguapan yang besar, perlu pola angin tertentu sehingga uap air bisa terkondensasi di suatu wilayah.

“Dengan asumsi satu ember sama dengan 10 liter air, maka total air yang hendak diuapkan hanya ribuan meter kubik. Diperlukan ratusan juta ember untuk mendapatkan jutaan meter kubik. Itu pun jika air yang ditempatkan di ember menguap semua. Ini dipastikan tidak akan mungkin,” kata Tri Handoko, Sabtu (12/9/2015) seperti dikutip KOMPAS.COM

“Tentu saja ini terkait dengan kondisi cuaca skala luas. Keberadaan gunung bisa saja mengakibatkan terbentuknya awan, tetapi untuk menjadi hujan, perlu juga lingkungan yang mendukung,” papar Tri Handoko.

Lanjutnya, air laut di sekitar Jambi, Sumatera Selatan, dan Riau tetap menguapkan airnya. Namun, pola angin mengakibatkan uap air tertarik ke utara dan timur laut sehingga awan terbentuk di wilayah utara.

“Akan tetapi, memang, selalu saja ada peluang perubahan pola angin pada skala yang lebih kecil yang memungkinkan terbentuknya awan. Tim BPPT telah siaga untuk menyemai awan yang mungkin tumbuh agar bisa menjadi hujan,” kata Tri Handoko.

Ia lebih menganjurkan agar masyarakat punya partisipasi yang lebih mendukung. Yang paling penting saat ini adalah jangan membakar hutan dan lahan. Pembakaran kecil bisa menjadi besar dan tidak terkendali.

“Laporkan jika mendapati ada orang yang membakar hutan dan atau lahan. Kalau perlu, bergabung dan aktiflah dalam gerakan-gerakan pemadaman kebakaran hutan dan lahan,” kata Tri Handoko.(*/kompas)

21,316 total views, 1 views today

Don't miss the stories followPortal Balikpapan and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Duh, Kabut Asap di Balikpapan Sudah Masuk Kategori Tidak Sehat

Ditinggal Belanja, Uang 150 Juta di Dalam Mobil Raib