PORTALBALIKPAPAN.COM, Nusantara – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI Angkatan Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta mitra terkait melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah lokasi dalam delineasi IKN melalui operasi water bombing dari udara.
Operasi yang didukung pemantauan dan pemadaman di darat tersebut dilakukan secara cepat dan terukur, dengan hasil pemantauan setelah operasi menunjukkan berkurangnya titik api.
Operasi water bombing dilaksanakan pada Sabtu (5/9/2026) dalam dua sortie menggunakan helikopter Caracal H225M yang berangkat dari Lanud TNI AU Dhomber, Balikpapan.
Operasi menyasar sejumlah lokasi yang memerlukan penanganan, yakni kawasan Bukit Tengkorak, Jalan Nasional Balikpapan–Samarinda KM 47, Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam) KM 49–53, dan Wonotirto.
Pada sortie pertama, operasi dilakukan di kawasan Bukit Tengkorak. Selanjutnya pada sortie kedua, water bombing dilakukan di Jalan Nasional Balikpapan–Samarinda KM 47 sebanyak lima kali, Tol Balsam KM 49–53 sebanyak empat kali, dan Wonotirto sebanyak satu kali.
Dengan demikian, sepanjang operasi pada hari tersebut dilakukan sebanyak 10 kali water bombing.
Penanganan dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan pembaruan koordinat dari tim di lapangan. Informasi tersebut menjadi dasar bagi tim udara untuk menentukan sasaran secara tepat, sementara kondisi di lapangan terus dipantau untuk memastikan langkah penanganan dilakukan sesuai kebutuhan.
Sumber air untuk operasi water bombing diperoleh dari sejumlah sumber di sekitar lokasi, antara lain Danau Merdeka dan bekas galian tambang.
Langkah tersebut diawali dengan patroli udara yang dilakukan TNI Angkatan Udara pada Jumat (4/9/2026) untuk mengidentifikasi dan memantau kondisi di sejumlah lokasi.
Hasil pemantauan patroli kemudian menjadi bagian dari dasar penentuan sasaran penanganan dalam operasi water bombing.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen Kebijakan dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, menegaskan pentingnya respons sejak dini untuk mencegah kondisi karhutla berkembang lebih luas.
“Prinsipnya, jangan sampai kondisi berkembang lebih luas. Lebih awal ditangani, lebih baik. Karena itu, kita lakukan langkah preventif melalui water bombing. Setelah operasi, hasil pemantauan menunjukkan kondisi sudah membaik dan api serta asap berkurang. Kami juga terus melakukan pengecekan bersama BMKG melalui pemantauan satelit,” ujar Danis.
Danis menambahkan bahwa kecepatan respons menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering.
Karena itu, pemantauan dan penanganan terus dilakukan secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan informasi dari lapangan, pemantauan udara, dan data BMKG.
Sementara itu, Kapten Penerbang Helikopter Caracal H225M TNI Angkatan Udara Arief Rahmanto menyampaikan bahwa koordinasi antara tim di darat dan udara menjadi kunci agar operasi dapat dilakukan secara tepat sasaran.
“Kerja sama ini sangat memuaskan. Tim dari darat terus memberikan pembaruan titik koordinat sehingga kami yang berada di udara dapat melakukan pemadaman sesuai dengan titik yang ditentukan,” ujar Arief.
Otorita IKN bersama BNPB, TNI Angkatan Udara, BMKG, dan seluruh unsur terkait akan terus memperkuat pemantauan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap potensi karhutla di wilayah delineasi IKN.
Langkah tersebut dilakukan secara terkoordinasi dengan mengutamakan deteksi dini, respons cepat, ketepatan sasaran, dan penanganan terukur. (*/mt)
![]()













