PORTALBALIKPAPAN.COM – Siapa nyana, pria senja dengan karakter wajah teduh ini punya pengalaman ciamik. Ia adalah Jasmani, seorang ketua RT.
Jasmani sudah dua kali diamanahi Ketua RT 38 Kelurahan Talagasari, Kecamatan Balikpapan Kota.
Ia menjabat di periode 2021-2024 dan 2025-2030.
“Dulu ketua RT kan hanya tiga tahun, sekarang lima tahun,” jelas Jasmani, Kamis 20 Agustus 2026 sore.
Sekilas, Jasmani tak berbeda dengan ketua RT lainnya. Tapi di balik wajahnya yang teduh, ia punya pengalaman menarik yang tak semua orang memiliki.
Bagi Jasmani, nama Cendana, tidak asing lagi.
Cendana, identik dengan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.
Sejak era Soeharto dan Wakilnya Soedarmono, pak Jasmani sudah bertugas mengawal Istana. Termasuk kediaman Presiden dan Wapres.
Semasa aktif di ketentaraan, Jasmani ditugaskan dalam Pawalis atau Pasukan Kawal Istana. Biasa dikenal sebutan Walis.
Yakni unsur prajurit dari Pasukan Pengamanan Presiden khususnya dari Batalyon Pengawal Protokoler Kenegaraan (Yonwalprotneg).
Yang berasal dari Batalyon Pengawal Protokoler Kenegaraan, yakni unit Polisi Militer di bawah Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Bertugas mengawal VVIP (voorijder), mengamankan istana, dan menjalankan tugas protokoler kenegaraan.
Termasuk melaksanakan pengamanan fisik dan penjagaan di area Istana Kepresidenan.
Selain itu, menjadi pasukan kehormatan (honour guard) saat penyambutan tamu negara asing. Serta menjalankan tugas pengawalan protokoler dan upacara kenegaraan.
Pasukan ini rutin mengadakan upacara prosesi pergantian atau serah terima jaga (guard mounting) di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta, yang mirip tradisi di Istana Buckingham.
Dalam atraksi rutin tersebut, Pawalis didukung Pasukan Berkuda dari Batalyon Kavaleri (Yonkav) Paspampres dan Satuan Musik (Densik) Paspampres.
Ia sudah kenyang dengan jam terbangnya menjaga Istana Negara, Istana Merdeka, Istana Bogor, kawasan Diponegoro, Senopati, Cendana, dan lainnya.
“Saya bertugas di sana era 1986-1994. Lalu ditugaskan ke Semarang sampai 1998. Selanjutnya ke Balikpapan sampai pensiun,” tandasnya.
Jasmani bersedia membagi kisah inspiratifnya kepada media ini. Apakah sampai sekarang masih berkomunikasi dengan rekan selintingan?
Ditanya begitu, ia menjawab, “Iya masih. Jiwa Korsa kami kuat. Kita juga bergabung dalam grup Jenderal-jenderal aktif,” ujarnya Jasmani.
Sebagai Pengawal Istana, sudah barang tentu punya keahlian khusus dibanding prjaurit lain.
Jasmani mengaku saat aktif menjaga Istana, dilatih banyak hal.
Selain latihan fisik, bela diri, latihan-latihan khusus, kemampuan menggunakan bermacam-macam senjata juga harus dikuasainya.
Latihan itu rutin dilakukan sepekan sekali.
Untuk kemampuan penggunaan senjata, tidak hanya senjata api kan?
Ia mengungkap, “Semua jenis senjata. Di Istana kan lengkap.”
Apakah sampai sekarang kemampuan menggunakan beragam senjata itu masih dikuasai? Ditanya soal ini, ia tertawa.
“Ya sedikit-sedikit masih bisa lah, kan gak mungkin langsung lupa karena dasarnya kita sudah punya,” ungkapnya.
Saat media ini menyebut salah satu nama petinggi tentara dari Jakarta, yang juga pernah bertugas mengawal Presiden Soeharto, Jasmani mengamini.
“Iya saya kenal. Beliau dari Paspampres kan, saya Walis,” jelasnya. Mereka pernah bertugas di periode yang sama.
Meski telah pensiun, Jasmani tetap terlihat bugar. Padahal usianya sudah senja, lahir di bulan September 1966.
Setahun setelah pemberontakan G30S/ PKI. Walau kini menginjak usia 60 tahun, tapi tubuhnya masih terlihat gagah, tegap dan tegas.
Jasmani punya tiga anak, satu sudah berhasil meraih Sarjana Ilmu Komunikasi, satunya dokter gigi yang tengah menjalani koas.
Bungsunya baru masuk kuliah di salah satu kampus tersohor di Bandung. Namun, Jasmani telah ditinggal pergi istrinya.
Tepat sebulan setelah pensiun. Seakan benar-benar menemaninya sampai purna tugasnya mengabdi pada negara selesai.
“Iya menemani saya sampai selesai tugas,” kenangnya. Selagi mendiang istrinya masih hidup, sebagaimana keluarga militer, ia tegas mendidik anak-anaknya dengan disiplin ketat.
Tapi, “Pas ibunya anak-anak sudah tidak ada, saya melunak. Tidak tega, nanti takut mereka malah tertekan,” tuturnya.
Meski begitu, ia telah berhasil membawa seluruh buah hatinya mendapat pendidikan terbaik di berbagai perguruan tinggi.
Di lingkungan sekitarnya, Jasmani sudah dua periode didulat menjadi Ketua RT38. Ia mengemban tugas ini sejak 2021.
RT38 dihuni sekitar 121 Kepala Keluarga, warganya beragam dari berbagai macam kalangan.
Jasmani mengaku di daerahnya relatif tak ada keluhan. Seperti banjir, sampah, air, keamanan: semua relatif stabil.
Tak ada keluhan yang menonjol. “Untuk air, alhamdulillah kalau tengah malam sudah mengalir,” sarkasnya.
Warganya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Sebab ada satu masalah krusial yang kini tengah dikeluukan warganya Rt38.
“Masalah legalitas tanah dan bangunan. Kami sudah ada IMTN, tapi sampai sekarang status lahan kami tidak jelas,” keluhnya.
Umumnya, pihak yang telah mengantongi Izin Menggunakan Tanah Negara (IMTN) maka berhak untuk mendapat sertifikat hak milik (untuk rumah) atau HGB; hak guna bangunan.
“Tapi pengajuan kami ditolak, dan sampai sekarang tidak pernah diberi tahu alasannya,” keluh Jasmani yang janggal dengan kasus ini.
Padahal, katanya, mereka butuh penjelasan. Bukan digantung tanpa sebab. Andai pun itu tanah negara, pemerintah pasti punya solusinya.
Yang dirasakan warga RT 38 saat ini, kata Jasmani, dibuat gantung. “Alasan penolakan pun hanya lisan, tidak ada surat, tidak ada berita acara atau alasan tertulis lain.”
Ia berharap BPN dan pihak terkait bisa memberi penjelasan kepada warganya. Pihaknya mengaku juga telah bertemu dengan Asisten I Pemkot Balikpapan, Zulkifli.
“Kira-kira bulan Juni lalu. Kelanjutannya bagaimana, kami juga tidak tahu. Tidak ada penjelasan apapun,” sesalnya.
Ia berharap keluhanl warganya bisa mendapat penjelasan dan solusi konkret dari Pemkot.
Bekoer














