PORTALBALIKPAPAN.COM, Salatiga – Aroma kuah hangat menyambut siapa saja yang melintas di kawasan Terminal Tingkir Salatiga, Jawa Tengah. Di sudut yang tak pernah sepi, berdiri sebuah warung sederhana yang menyimpan sejarah panjang: Soto Pak Iket, kuliner legendaris yang telah bertahan lintas generasi.
Nama Pak Iket bukan sekadar identitas, melainkan sosok pendiri yang lahir pada tahun 1901. Warisan rasanya masih terjaga hingga kini. Salah satu Tim Portal Balikpapan berkesempatan singgah dan merasakan langsung kelezatan soto tersebut.
Terminal yang dulu dikenal sebagai Pos Tingkir ini berubah nama pada akhir 2000-an, seiring pembangunan terminal baru yang kini menjadi salah satu simpul transportasi penting di Salatiga.
Di balik kepulan uap soto, kami bertemu dengan Pak Sunardi, menantu almarhum Pak Iket. Di usianya yang menginjak sekitar 60an tahun, ia masih sigap melayani pembeli dengan senyum ramah. Semangkuk soto pun tersaji, kuahnya gurih, hangat, dengan cita rasa yang seolah mengajak kembali ke masa lalu.
Menurut Pak Sunardi, Soto Pak Iket sudah ada sejak 1950-an. Perjalanannya pun panjang, berpindah-pindah lokasi mengikuti perkembangan kota. “Dulu di perempatan Pasar Lama Salatiga, kemudian tahun 1962 pindah ke Terminal Shopping, lalu 1979 ke Terminal Blotongan,” tuturnya.
Sejak 1982, usaha ini diteruskan oleh keluarga. Kini, selain di dalam terminal, Soto Pak Iket juga membuka cabang di depan terminal, tak jauh dari rumah sakit setempat. Eksistensinya semakin menguat sebagai salah satu ikon kuliner daerah.
Sebelum wafat, Pak Iket sempat berpesan bahwa hanya Sunardi yang bisa melanjutkan usaha tersebut. Pesan itu kini terbukti, dengan keberlanjutan rasa yang tetap terjaga hingga hari ini.
Menariknya, sebagian keluarga besar Pak Iket juga merantau hingga ke Balikpapan, tepatnya di kawasan Pasar Baru. Namun, mereka memilih jalur usaha berbeda dengan berjualan sayur mayur.
Bagi siapa pun yang melintasi wilayah Kabupaten Semarang, mampir ke Terminal Tingkir adalah pengalaman yang layak dicoba. Tak sekadar mengisi perut, tetapi juga menelusuri jejak sejarah dalam semangkuk soto legendaris. (*/imam)
















